Seorang Kucing, Seekor Manusia
Posted by Adi on
February 23, 2008

Kenapalah manusia yang dikurniakan akal sengaja tidak menggunakan akalnya yang sangat berharga itu? Kenapa sifat simpati dan kasih manusia yang tersemat sejak azali sengaja dikikis dan dibiarkan padam dalam diri? Kenapa naluri kemanusian itu dibiarkan martabat dan maruah menjadi lebih rendah daripada seorang haiwan? Kenapa semua ini berlaku?
Adi sedih melihat perilaku seekor manusia pada waktu malam sekitar pukul 9, saat Adi tekun menelaah pelajaran yang terlalu banyak teorinya. Pandangan Adi pada mulanya melihat kepada seorang anak kucing yang suka mengikut orang yang baru balik dari kuliah. Tak kira lelaki atau perempuan, kucing itu akan mengikut sampai suatu tempat dan kembali ke tempatnya semula. Tapi hati Adi sedih bila seekor manusia ini menghampiri anak kucing tersebut. Anak kucing itu menggesel-geselkan badannya di kaki manusia itu, ingin bermanja. Sesaat dua manusia itu biarkan, dan kemudian menolak anak kucing itu ke dalam parit dengan kakinya yang busuk. Mujur parit itu kering kontang.
Seketika kemudian, anak kucing itu naik kembali dan bergesel-gesel lagi di kaki manusia tersebut. Kali ini manusia itu menolak lagi anak kucing itu ke dalam parit, seolah-olah gembira dengan perbuatannya itu. Langsung tidak hiraukan anak kucing yang tak berdosa itu, sambil tangannya menekan punat telefon bimbitnya. Seekor manusia yang tiada peri.





